Blog

BYTe: Technopreneur Handal Pun Bisa Lahir dari Alam

BYTe

Siapa bilang seorang wirausahawan berbasis teknologi atau yang lebih kita kenal dengan istilah technopreneur bisa menjadi handal hanya dengan bermodalkan teori semata. Technopreneur yang baik dan dibutuhkan oleh Indonesia saat ini adalah mereka yang mampu berinovasi serta memiliki kemampuan bisnis yang didasarkan atas pemahaman mengenai identifikasi peluang akan kebutuhan masyarakat yang ada.

Salah satu cara untuk melihat peluang adalah dengan paham fakta yang ada di lapangan. Itulah alasan mengapa belajar berdasarkan pengalaman (experiential learning) harus diterapkan oleh seorang technopreneur sejak dini.

Pengenalan akan experiential learning inilah yang kemudian membuat Center for Technopreneurship and Innovation (CTI) Surya University (SU) menggagas sebuah acara bagi anak-anak tingkat SMA, Bootcamp for Young Entrepreneur (BYTe). Kegiatan bertajuk “Technopreneur & Organic Farming” ini diadakan pada (22/11-24/11) di Desa Kemang, Kawasan Agropolitan Cianjur, Jawa Barat.

“BYTe adalah salah satu program unggulan CTI SU untuk mencapai misi CTI, yaitu mengembangkan, mempromosikan dan memelihara semangat kreativitas, inovasi, dan kewirausahaan untuk melatih dan menghasilkan technopreneur-technopreneur muda demi terciptanya usaha bisnis berkelanjutan berbasis teknologi efisien dan ramah lingkungan serta untuk menciptakan inisiatif bagi pengembangan UMKM berbasis teknologi dan inovasi di daerah-daerah. Diharapkan dengan mengikuti BYTe, peserta tak hanya mendapat pengetahuan lebih mengenai teori technopreneurship tetapi juga mampu menciptakan opportunity dari laboratorium lapangan,” jelas Dessy Aliandra, PhD, koordinator umum program BYTe sekaligus dosen Technopreneurship di Surya University.

Dalam acara yang berlangsung selama 3 hari ini, 35 peserta akan mendapat pelatihan mengenai ilmu technopreneurship dan berkebun organik melalui serangkaian seminar dan praktek lapangan. Selain itu, nantinya mereka juga diwajibkan untuk membuat sebuah inovasi dari permasalahan nyata yang mereka temukan saat berkebun. Inovasi ini kemudian akan dilombakan pada (23/11) dan pemenangnya akan diumumkan pada hari Minggu (24/11).

Beberapa hal yang akan dipelajari oleh para peserta sebelum mereka melakukan presentasi atas inovasi yang mereka kerjakan antara lain adalah sebagai berikut:

Sesi 1: Aku dan Lingkunganku
Peserta dapat mengidentifikasi fakta dan temuan di sekeliling mereka saat melakukan praktik.

Sesi 2: Lingkungan Idealku
Peserta dapat menjabarkan fakta dan temuan serta merumuskan perubahan yang diinginkan bersama kelompoknya.

Sesi 3: Mari Berkebun (Menciptakan Opportunity)
Peserta diharapkan dapat menciptakan opportunity dari kunjungan ke perkebunan bersama mitra lokal (Yayasan Amani)

Sesi 4: Kebun Idealku (Merancang Inovasi)
Peserta dapat merancang inovasi dari opportunity yang ada bersama kelompoknya.

Sesi 5: Protoshopping
Peserta dapat merancang langkah-langkah sistematis untuk mewujudkan rancangan inovasi mereka.

Sesi 6: Prototyping
Peserta membuat prototype rancangan inovasi yang besoknya akan dipresentasikan di depan para juri.

Beberapa pembicara yang turut memeriahkan kegiatan ini adalah Jonathan Gultom dan Odi Akhyarsi dari CTI, Yudi Herwandi dari Mitra Lokal Petani Organik (Amani), dan Wardah Alkatiri, Pendiri Yayasan Amani. Adapun lokasi perkebunan yang digunakan merupakan perkebunan organik yang dibina oleh Yayasan Amani. Kegiatan ini dapat terselenggara berkat dukungan penuh dari Indomaret.

FacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr

Tags

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*