Blog

Cetuskan Ide Segila Mungkin, Lahirlah Inovasi

By

November 23, 2013

0 comments

CTI, Event, Techno Dept

JAKARTA – Siang ini, kebun tanaman organik di daerah Cianjur mendapat tambahan pekerja, 35 siswa dari 14 SMA di Jabodetabek. Mereka belajar dan praktik langsung berkebun, mulai dari mencangkul, menanam bibit, menyiram, memupuki tanaman hingga memanen sayuran.

Byte1Di sela-sela kegiatan, peserta Bootcamp for Young Technopreneur (BYTe) itu juga tekun menyimak “kuliah lapangan” dari dosen Technopreneurship Surya University (SU) Dessy Aliandrina, Ph.D. Materi kuliahnya, mengidentifikasi masalah untuk menentukan solusinya berbasis teknologi tepat guna, ramah lingkungan dan ekonomis.

“Intinya, jangan sampai kita membuat inovasi yang menghilangkan pekerjaan orang, tetapi kita harus membuat inovasi yang memudahkan pekerjaan mereka,” kata Dessy di lokasi BYTe, Desa Kemang, Kawasan Agropolitan Cianjur, Jawa Barat, Sabtu (23/11/2013).

Salah satu peserta BYTe yang ikut merasakan kerasnya tangkai cangkul adalah Regnald. Siswa SMA Atisa Dipamkara ini mengaku menemukan banyak masalah dari praktik di laboratorium alam hari ini. Di antaranya, kata Regnald, adalah masalah penggarapan lahan seperti pencangkulan, perataan lahan taman dan irigasi.

Cowok berkulit putih ini sendiri telah memiliki beberapa ide inovasi. Tapi, ide-ide tersebut belum dapat direalisaikan karena biaya produksinya masih mahal.

“Kasihan petani, masa kita mau membantu mereka tapi ngasih inovasi alat yang mahal. Saya mau buat inovasi yang 100 persen dibuat di Indonesia. Pasti harganya lebih murah dan terjangkau bagi petani.

Kalau harga alat bantu kita lebih murah, mereka juga akan terbantu. Apalagi mereka harus menangani lahan yang luasnya hektaran,” tutur Regnald kepada Okezone.

Pengalaman serupa dirasakan peserta lainnya. Misalnya yang dirasakan Chessa (SMA Pahoa), Haryanto Bun (SMA San Marino), Rianis Jasper (SMA Tiara Kasih) dan Vivian (SMA Citra Kasih). Anggota kelompok satu itu mencermati masalah panen dan pembibitan.

Chessa menjelaskan, dari total 100 kg hasil panen pok chai, hanya 30 kg yang layak dijual. Artinya, petani hanya mendapat sedikit setiap kali panen. Chessa dan kawan-kawan kemudian mencari apa yang menjadi masalah minimnya hasil panen ini. Ternyata, kata Chessa, hama dan akar ganda membuat banyak tanaman pok chai rusak.

“Pupuk yang digunakan masih organik, dan ternyata fungsinya tidak seoptimal pupuk non-organik. Selain itu, bibit juga masih diimpor dari luar negeri, artinya ongkos produksi juga masih mahal,” ujar Chessa.

Penjelasan Chessa diamini Jasper. Kelompok mereka pun berpikir membuat inovasi yang memfokuskan solusi pupuk dan bibit. Misalnya, dengan membuat formula pupuk organik tertentu yang dapat lebih optimal serta mengembangkan bibit asli Indonesia.

“Selain itu, kebijakan harga impor juga perlu diperbaiki. Pemerintah harus menaikkan harga barang-barang impor. Jadi orang akan kembali mengonsumsi produk indonesia asli, seperti sayuran organik ini,” imbuh Jasper.

Ide mereka masih harus digodok dengan anggota tim lainnya. Kemudian, ide tersebut diwujudkan melalui sebuah prototype produk alat pertanian yang dapat dijual. Mereka juga harus membuat dan mempresentasikan rencana bisnis dari prototype produk tersebut.

Keempatnya sepakat, keikutsertaan mereka dalam BYTe memberikan pengalaman tersendiri. Selain akan membagikan pengalaman dan pengetahuan yang didapat selama kemping asyik tiga hari ini, Jasper cs akan mengajak teman-temannya di sekolah untuk sama-sama mencari solusi atas berbagai masalah yang ditemukan di lapangan.

“Setidaknya, saya juga bisa bercerita ke teman-teman bahwa saya sudah bisa nyangkul tanah, lho,” kata Jasper seraya tergelak.

Technopreneurship merupakan konsep yang menggabungkan penggunaan teknologi dalam entrepreneurship. Bagi sebagian besar siswa tadi, konsep ini masih asing di telinga mereka. Tetapi, Dessy menilai, meski belum akrab dengan technopreneurship, anak-anak muda ini sudah bisa menangkap masalah dan mencetuskan ide-ide solusinya.

“Sejauh ini, ide-ide yang mereka lontarkan banyak yang aneh, tapi dalam artian bagus. Kami memang mendorong peserta untuk mencetuskan ide segila mungkin. Tentu saja, ide itu lalu diolah lagi agar bisa diaplikasikan,” tuturnya.

Sumber : Okezone

FacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr

Tags

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*